Istighosah dan Mukhadhoroh Ke 2

Table of Contents

 

Kegiatan Istighosah dan Mukhadhoroh Ke 2 dilaksanakan pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 16 Oktober 2025
Tempat : Aula MI Al Falah
Tema : Parade Puisi “Merangkai Sajak, Menyemai Akhlak”

1. Karawang–Bekasi – Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang–Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti ribuan nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu.

Engkau lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Ataukah tidak untuk apa-apa, kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi.

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kenang, kenanglah kami.

2. Diponegoro – Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

Tuan tak juga akan mati
Tak akan mati sekali-sekali

Selama Indonesia belum merdeka
Belum terkubur dalam tanah
Belum hilang dari dunia
Tuan hidup terus dalam jiwa kami

3. Sajak Anak Muda – WS Rendra

Kami adalah angkatan baru
Yang tidak bisa dibeli dengan janji
Kami tidak bisa ditaklukkan oleh uang
Kami tidak bisa ditipu dengan kata manis

Kami anak muda
Membawa cita-cita bangsa
Membawa mimpi orang tua
Untuk Indonesia yang merdeka

Kami anak muda
Berjalan di jalan panjang penuh debu
Tapi kami tidak akan menyerah
Karena kami mencintai negeri ini
Dengan sepenuh hati

4. Aku Melihat Indonesia – Mohammad Hatta

Aku melihat Indonesia
Di mata anak-anak kecil yang polos
Di wajah para pemuda yang penuh semangat
Di dada para pahlawan yang rela berkorban

Aku melihat Indonesia
Dalam doa orang tua yang tulus
Dalam kerja keras petani di sawah
Dalam perjuangan nelayan di laut

Aku melihat Indonesia
Dalam langkah para guru
Dalam cucuran keringat buruh
Dalam tangan para ibu yang mengasuh

Indonesia, engkau hidup dalam jiwaku
Engkau akan abadi sepanjang masa

5. Tanah Air – Muhammad Yamin

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

6. Negeriku – Taufiq Ismail

Negeriku…
Engkau lahir dari keringat pejuang
Dari darah yang menetes di bumi
Dari doa yang terucap di malam sunyi

Negeriku…
Engkau tumbuh dengan air mata
Dengan semangat yang tak pernah padam

Aku bersumpah untukmu, negeriku
Menjaga, merawat, membela
Agar engkau tetap jaya
Sepanjang masa

7. Doa Seorang Anak – WS Rendra

Tuhan…
Aku anak kecil yang lemah
Aku sering takut gelap
Aku sering takut sendirian

Tuhan…
Aku mohon kepada-Mu
Jangan biarkan aku sendiri
Temani aku dalam tidurku
Bimbing aku dalam mimpiku

Tuhan…
Beri aku hati yang suci
Beri aku cinta yang tulus
Agar aku bisa menyayangi ibu bapakku
Dan berguna bagi bangsaku

8. Pahlawan Tak Dikenal – Chairil Anwar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum beku, bibirnya terbuka

Ia tidak ingat bilamana ia datang
Kedua tangannya memeluk senapan
Ia tidak tahu untuk apa ia datang
Ke bumi yang gersang ini

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum beku, bibirnya terbuka

9. Sajak Putih – Chairil Anwar

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

10. Doa untuk Ibu – KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Ibu…
Engkau adalah doa yang berjalan
Engkau adalah kasih sayang yang tak pernah padam
Setiap tetes keringatmu adalah pengorbanan
Setiap sujudmu adalah harapan

Ibu…
Aku tak mampu membalas jasamu
Hanya doaku yang sederhana
Semoga Allah selalu menjagamu

11. Aku – Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
’Ku mau tak seorang ’kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

12. Ibu – Chairil Anwar

Kalau aku berangkat nanti
Ibu, ini tanganku, peganglah erat-erat
Ibu sudah terlalu tua untuk ikut berjalan
Tinggallah di rumah, biar aku yang pergi sendiri

Kalau aku sampai di sana
Ibu, akan kukirim kabar tentang diriku
Akan kutulis semua yang kulihat dan kurasa
Agar Ibu tahu,
Betapa aku ingin Ibu selalu di sisiku

13. Doa – Chairil Anwar

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

14. Tanah Air – Chairil Anwar

Tanah air yang kehilangan cinta
Aku berdiri sendiri
Di antara batu dan baja
Di bawah matahari

Tanah airku,
Aku berjanji dalam sajakku ini
Untuk setia sampai mati

15. Tanah Airku – Muhammad Yamin

Tanah tumpah darahku
Engkau permai abadi
Engkau pertiwi suci
Bagi putra negeri

Engkau permai nan murni
Tempatku lahir dan dibesarkan
Tempatku berlindung di bawah ridhamu
Tanah airku, aku cinta padamu

16. Indonesia Tumpah Darahku – M. Yamin

Indonesia tumpah darahku
Engkau pusaka yang kupertahankan
Dengan jiwa dan raga
Dengan segenap tenaga

Indonesia, tanah airku
Tempat lahirku dan berpulang
Cintaku padamu takkan hilang
Sepanjang hidup, sepanjang zaman

17. Tanah Airku – Sanusi Pane

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai
Tanah tumpah darahku
Engkau abadi di sanubariku

18. Sajak Putih – Chairil Anwar

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

19. Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

20. Ibu – KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Ibu, engkau adalah doa yang berjalan
Engkau adalah kasih sayang yang tak pernah padam
Setiap tetes keringatmu adalah pengorbanan
Setiap sujudmu adalah harapan

Ibu…
Aku tak mampu membalas jasamu
Hanya doaku yang sederhana
Semoga Allah selalu menjagamu


Posting Komentar